View Full Version: Just Follow The Wind

.:[Suikoden Destiny]:. > Dos Haven > Just Follow The Wind


Title: Just Follow The Wind


Luc_ky Odessa - August 18, 2007 06:37 AM (GMT)
Ranmaru Story

Dos Haven, Heleison Monarch.

Seorang pemuda terlihat duduk di sebuah restoran.
Di sebelahnya tampak seorang gadis berpakaian bangsawan sedang tertawa.
Mereka terlihat bercakap-cakap dengan asyiknya.

”Jadi, kamu sekaya itu?” tampak sang gadis sangat takjub.

”Ya, tentu saja...Ayahku memiliki tambang minyak paling besar di Usine,” ujar si pemuda sambil meneguk segelas anggur.

”Mudah saja bagiku untuk membeli restoran ini,” ujarnya santai. Matanya menatap tajam pada gadis itu, melihat reaksinya.
Gadis itu tampak sangat terpesona.

Si pemuda tersenyum. Mengeluarkan selembar uang kertas 1000 potch
Kemudian menyulut api pada uang tersebut.

”A-apa yang kamu lakukan?” wanita itu terlihat terkejut. Pemuda itu tersenyum puas.

”Uang bagiku bukan masalah...Lihat ini...”dia menunjukkan bros berlambang Oscar Flower, ”Ini adalah bukti aku merupakan keluarga bangsawan dari Heleison Monarch,” ujarnya sambil tersenyum.

”Eh? Bentuknya sedikit berbeda dari yang pernah kulihat...”
Gadis itu hendak mengambilnya. Tapi si pemuda menariknya, meletakkan kembali ke saku.
”Mungkin yang kamu lihat sebelumnya palsu,” si pemuda masih dengan senyum di wajah.

”Begitukah?” si wanita percaya dengan polosnya.

Terdengar suara ribut-ribut. Ada petugas keamanan di luar pintu.

Pemuda itu terlihat sedikit terkejut.
”Ah, aku hampir lupa...hari ini aku harus menemani ayah ke Village of Kreta,” Pemuda itu berdiri. ”Ada tambang emas yang harus diawasi,” ujarnya sambil mengangkat topi bulunya.

”Sayang sekali, padahal kita bisa bicara lebih banyak,” gadis itu terlihat kecewa.

”Tidak apa-apa, kalau kita berjodoh..kelak akan bertemu lagi. Selamat tinggal,” pemuda itu menghilang lewat pintu belakang.

Tidak lama setelah itu, beberapa petugas keamanan masuk ke restoran. Menanyakan apakah ada yang pernah melihat pemuda dengan ciri-ciri berambut pirang, berpakaian bangsawan, tinggi, dan cukup tampan.

Tidak ada yang menyahut. Ciri-ciri itu terlalu umum. Banyak yang berambut pirang –terutama keluarga bangsawan- dan tampan.

Petugas itu kemudian memperingati agar mereka hati-hati karena pria itu adalah penipu. Korbannya kebanyakan wanita bangsawan.

Barulah saat itu terdengar teriakan dari seorang gadis yang merasa kehilangan uangnya. Ya, gadis yang duduk bersama pemuda tadi.
-----------------------------------

Ranmaru, pemuda yang duduk dengan gadis malang itu segera mempercepat langkahnya. Dia menyelinap ke lorong sempit diantara bangunan, melepas penyamarannya dan wig pirangnya.
Lalu, dia berjongkok. Melihat dompet milik gadis di restoran tadi.

”Lumayan, ada sekitar 20000 potch...minus uang 1000 potch yang kubakar tadi, tidak apa-apa....hehehehe” dia tertawa pelan.

Dia menghitung beberapa lembaran dan recehan kemudian mengeluarkan kantung kulit dari sakunya.
”Hmm...jika digabung, kira-kira ada 50000 potch...Dengan uang sebanyak ini, aku tidak perlu mencuri dalam beberapa hari,” dia memasukkan seluruh uangnya ke dalam kantung kulit dan membuang dompet gadis itu ke tumpukan kotak kayu di ujung gang.

Matanya beralih ke arah kerumunan petugas dan penduduk yang berkumpul di dekat restoran. Suasana riuh.

”Sepertinya aku sudah cukup terkenal disini…” dia terkikik.
”Apa boleh buat, aku harus meninggalkan kota ini...Ha...sayang sekali...padahal disini adalah tempat yang bagus untuk bekerja...” Ranmaru menghela nafas. Seolah tampak kecewa.
Dia berjalan dengan langkah santai menuju gerbang keluar.

”Nah, selanjutnya ke mana yah....Apa aku perlu mengunjungi Deendart?” dia menimbang-nimbang.
”Kalau ibu kota, penjagaannya pasti lebih ketat dibanding Dos Haven,” akhirnya langkahnya berbelok.

”Hmm...aku mau bersantai dengan tarian dan hiburan,” dia berlalu dengan langkah ringan.
Menuju Wazberg.




* Hosted for free by InvisionFree